Sebelum era internet datang, khususnya di Indonesia, istilah “
akun”
(
account) jarang digunakan di luar wilayah bisnis. Masyarakat umum
lebih sering menggunakan kata “
rekening” dibandingkan “akun”.
Misalnya:
- Orang
tidak menyebut akun telepon, melainkan “rekening telepon”.
- Orang
tidak menyebut akun listrik, melainkan “rekening listrik”.
- Orang
tidak menyebut akun air, melainkan “rekening air”
- Orang
tidak menyebut akun bank, melainkan “rekening bank”.
Akun” adalah kata serapan dari bahasa inggris yaitu “
account”
yang artinya: tempat penampung catatan aktivitas yang tersusun secara
koronologis berdasarkan sistim urut tertentu (tanggal misalnya). Sedangkat kata
“
rekening”, jika saya tidak keliru, adalah bahasa Belanda yang
artinya “
tagihan” atau dalam bahas Jerman disebut “
rechnung”
yang artinya juga tagihan.
Setelah era internet tiba, perlahan namun pasti, istilah “akun” makin sering
digunakan oleh masyarakat umum, lalu timbul akun-akun yang sifatnya
non-keuangan (non-financial accounts) misalnya: akun surat elektronik (email),
akun komunitas tertentu (media sosial, forum, blog), dlsb. Saya menulis di JAK
pun harus punya akun JAK terlebih dahulu
Baik akun atau rekening listrik, telepon, bank, email, media sosial,
sama-sama memiliki anatomi sebagai berikut:
- Identitas Utama Akun (Account’s ID) – Baik itu akun
keuangan maupun non keuangan, pasti memiliki identitas utama yang berfungsi
sebagai pembeda antara suatu akun dengan akun lainnya. Identitas akun bisa
jadi diwakili dengan nama akun atau kode-akun atau keduanya.
- Keterangan Akun (Account’s Descriptions) –
Keterangan akun, baik keuangan maupun non-keuangan sama-sama menjelaskan
tentang keberadaan suatu akun, dilengkapi dengan ikhltisar (summary) dari
aktivitas akun tersebut.
- Aktivitas Akun (Account’s Activity)– Kecuali
akun yang tidak aktif (idle account), baik yang keuangan maupun non
keuangan, sudah pasti ada isinya, yang tiada lain adalah aktivitas yang
dilakukan oleh pengguna akun terkait dengan akun tersebut. Akun email
isinya berupa arsip email masuk maupun keluar. Akun bank isinya arsip
catatan transaksi kas masuk dan keluar. Akun listrik isinya berupa catatan
penggunaan listrik. Dan lain sebagainya.
Itu akun secara umum, sebagai pengantar.
Di tulisan ini saya akan fokus untuk membahas akun, kode akun dan bagan akun
di wilayah yang sangat spesifik, yaitu: AKUNTANSI.
Akuntan dan calon akuntan, sejak di masa kuliah hingga bekerja, sudah sangat
familiar dengan istilah “akun”, aktivitas harian tak jauh-jauh dari urusan akun
(mulai dari urusan setup system/software akuntansi, pencatatan, pengelompokan,
pelaporan, analisa, hingga pemeriksaan laporan keuangan).
Akuntan senior (baca: angkatan lama) lebih suka menggunakan istilah “
rekening”
atau “
pos” (
post) untuk menyebut akun, dalam PSAK
barupun saya masih sering menemukan istilah “pos”, itu sebabnya mengapa
pekerjaan mencatat dan mengelompokan transkasi ke akun-akun sering disebut “
posting”.
Mau disebut akun, rekening, pos, tak masalah. Yang jelas pengertian dan
fungsinya sama saja, yaitu: sebagai penampung transaksi keuangan yang disusun
secara kronologis berdasarkan tanggal transaksi. Misalnya:
- Akun/rekening/pos
“Kas” – Penampung
transaksi-transkasi dalam bentuk kas (tunai)
- Akun/rekening/pos
“Penjualan” – Penampung
transaksi-transaksi Penjualan
- Akun/rekening/pos
“Biaya
Penyusutan Gedung” – Penampung transkasi-transkasi biaya
penyusutan gedung
- Akun/rekening/pos
“Piutang Dagang” –
Penampung transaksi-transkasi piutang
- Dan
seterusnya.
Sederhananya seperti ini:
- Pertama, tujuan utama
akuntansi adalah untuk menyajikan informasi/data keuangan bermanfaat yang
bisa dijadikan sebagai input atau bahan pertimbangan dalam mengambil
keputusan bisnis.
- Kedua, agar bisa
bermanfaat sebagai input dalam pengambilan keputusan bisnis, maka
informasi keuangan harus bersifat: (a) akurat; (b) relevan; dan (c) mudah
dipahami oleh pihak-pihak yang memerlukan (pengguna laporan keuangan:
manajemen, pemegang saham, kreditur dan pemerintah).
- Ketiga, agar mudah
dipahami maka informasi keuangan perlu disajikan secara sistematis, logis,
dan mudah dianalisa.
- Keempat, agar tersaji
secara sistematis, logis dan mudah dianalisa, maka informasi atau data
keuangan tidak disajikan dalam kondisi mentah dan acak, melainkan harus
terklasifikasi dan tersusun sedemikian rupa, sesuai dengan karakter usaha,
seperti format laporan keuangan yang kita gunakan saat ini.
Itu sebabnya mengapa mekanisme proses akuntansi berlangsung secara
bertahap, sebagai berikut:
- Tahap-1.
Mengumpulkan dan menganalisa bukti transaksi
- Tahap-2.
Menghitung transaksi (mengukur)
- Tahap-3.
Mencata transaksi (mengakui)
- Tahap-4.
Mengklasifikasikan transaksi ke dalam akun yang sesuai
- Tahap-5.
Menyusun laporan keuangan (melaporkan)
Catatan: Jika menggunakan software akuntansi, proses
klasifikasi di tahap-4 berlangsung secara otomatis pada saat proses pencatatan
(tahap-3) dijalankan.
Sehingga bisa disimpulkan bahwa, akun diperlukan dalam akuntansi sebagai
penampung transaksi yang telah terklasifikasi.
Jenis-Jenis Dan Nama Akun Dalam Akuntansi
Dari pemaparan di atas bisa dikatakan bahwa, akun adalah representasi atau
perwakilan dari suatu kelompok transaksi. Misalnya: akun “piutang dagang”
adalah wakil dari transasksi-transaksi piutang dagang yang jumlahnya mungkin
puluhan, ratusan atau bahkan ribuan.
Ada berapa jumlah akun dalam akuntansi, akun apa saja itu?
Disajikan dalam 2 elemen utama Laporan Keuangan, akun-akun tersebar
dalam
Laporan Posisi Keuangan (Neraca) dan
Laporan
Laba Rugi, sehingga secara keseluruhan akun-akun dibagi menjadi 2
kelompok besar, yaitu:
1. Akun TEMPORAL (Temporary Accounts)
– Adalah kelompok akun yang nilai saldonya bersifat temporal atau sementara
saja, dalam pengertian: nilai saldo akun kelompok ini hanya ada selama kurun
waktu suatu periode saja, untuk kemudian ditutup di akhir periode buku. Akun
temporal juga sering disebut “
Akun NOMINAL” (
nominal
accounts). Masuk dalam kelompok akun temporal atau akun nominal adalah
akun-akun yang disajikan dalam
Laporan Laba Rugi. Pada proses
tutup buku di akhir periode seluruh akun yang masuk dalam kelompok ini
“DITUTUP”, dengan kata lain nilai saldo semua akun “DI NOL-kan” dengan cara:
mendebit akun “Pendapatan”; dan mengkredit akun HPP dan “Biaya Operasional”
dengan akun “Laba Rugi”. Kelompok akun ini kemudian dibagi menjadi beberapa
sub-kelompok, yaitu:
a. Akun sub-kelompok “Pendapatan” (
Revenue) –
Terdiri dari akun yang diberi nama:
- Penjualan (Sales) – Untuk menampung
transaksi penjualan
- Retur Penjualan (Sales Return) – Untuk
menampung transkasi retur penjualan atau barang kembali (jika menggunakan
metode bruto)
- Diskon (Discount) – Untuk menampung
transaksi diskon (jika menggunakan metode bruto)
- Pendapatan Lain-lain (other revenues) – Untuk
menampung transaksi pendapatan yang berasal dari aktivitas di luar
aktivitas utama usaha (sering disebut peredaran di luar usaha), termasuk
pendapatan bunga jasa giro dari rekening bank.
b. Akun sub-kelompok “Harga Pokok Penjualan” (
Cost of
Goods Sold) – Terdiri dari akun yang diberi nama:
- Upah Buruh (Labor Cost) – Upah bagi
pegawai/buruh yang dibayar secara harian atau upah satuan
- Pembuatan Sample (Sampling) – Pembuatan sample
produk sebelum produksi, termasuk bahan baku dan proses
- Pengemasan (Packing) – Pengemasan produk,
termasuk bahan baku dan proses
- Pengiriman (Shipping) – Pengiriman barang
ke pembeli, baik sample maupun produksi.
- Listrik Pabrik (Electricity)– Penggunaan
listrik yang dialokasikan untuk aktivitas produksi, termasuk penerangan,
pemanas dan pendingin gudang penyimpnanan bahan baku dan barang jadi.
- Penyusutan Bangunan Pabrik –
Penyusutan bangunan pabrik dan gudang penyimpanan bahan baku dan barang
jadi
- Pemeliharaan Bangunan Pabrik
– Pemeliharaan gedung, termasuk pemeliharaan instalasi listrik.
- Penyusutan Mesin –
Penyusutan mesin-mesin yang digunakan untuk proses produksi, temasuk di
dalamnya mesin pendingin (non-AC), pemanas, genset.
- Pemeliharaan Mesin –
Pemeliharaan mesin produksi (lihat mesin di atas), termasuk pemeliharaan
instalasi mesin.
- Penyusutan Peralatan Pabrik
– Penyusutan peralatan kerja di produksi
- Pemeliharaan Peralatan –
Pemeliharaan peralatan kerja di produksi
c. Akun Sub-Kelompok “Biaya Operasional” (
Operating
Expenses) – Terdiri dari akun yang diberi nama:
- Administrasi Umum – Biaya
adminstrasi umum seluruh perusahaan
- Gaji Pegawai Kantor – Gaji
pegawai tetap disemua bagian (termasuk di bag produksi)
- Stationary & Supplies
– Penggunaan stationary dan supplies seluruh bagian, termasuk toiletries,
pencetakan form/blanko dan foto copy.
- Penyusutan Bangunan Kantor
– Penyusutan bangunan kantor dan bangunan-bangunan lain di luar pabrik dan
gudang penyimpanan, termasuk bangunan parkir dan post penjagaan.
- Pemeliharaan Bangunan Kantor
– Pemeliharaan untuk bangunan kantor (lihat bangunan kantor di atas)
- Penyusutan Peralatan Kantor
– Penyusutan perlatan yang tidak digunakan untuk aktivitas produksi,
termasuk di dalamnya komputer dan AC di seluruh bagian)
- Penyusutan Furniture –
Penyusutan furniture (meja & kursi) di seluruh bagian perusahaan
- Pemeliharaan Furniture –
Pemeliharaan untuk furniture (lihat furniture di atas)
- Penyusutan Kendaraan –
Penyusutan kendaraan operasional kantor, termasuk kendaraan dinas yang
digunakan oleh executive, manajer, dan pegawai di seluruh bagian.
- Pemeliharaan Kendaraan –
Penyusutan kendaraan operasional (lihat kendaraan di atas), termasuk
SAMSAT & KIR
- Asuransi – Biaya asuransi
bangunan, mesin dan pegawai.
- Listrik Kantor – Listrik
yang digunakan untuk keperluan kantor termasuk aktivitas-aktivitas yang
tidak ada di bagian produksi
- Telepon – Penggunaan
telepon di seluruh bagian (fixed line dan cellular), termasuk penggunaan
mobile phone yang digunakan oleh executive, manager dan pegawai yang
ditanggung oleh perusahaan.
- Perjalanan Dinas –
Biaya-biaya yang timbul akibat aktivitas peralanan dinas, ticket,
akomodasi, transportasi, termasuk akomodasi dan transaportasi tamu
perusahaan yang berkunjung dan ditanggung oleh perusahaan.
- Iklan & Promosi –
Iklan dan promosi untuk keseluruhan bagian, termasuk iklan lowongan dari
HRD.
- Lain-Lain – Biaya-biaya
operasional yang tidak bisa digolongkan kedalam akun yag telah ada.
- Pajak
Penghasilan – Pajak penghasilan perusahaan (PPh Badan)
- Bunga – Bunga atas
pinjaman baik dari bank maupun institusi lain.
2. Akun PERMANEN (Permanent Accounts)
– Adalah kelompok akun yang nilai saldonya bersifat permanen alias TETAP, dalam
pengertian: nilai saldo akun kelompok ini selalu tersedia, tidak pernah
ditutup, selama perusahaan beroperasi. Akun permanen juga sering disebut “akun
RIIL” (real account). Masuk dalam kelompok akun permanent atau akun riil adalah
akun-akun yang disajikan dalam Laporan Posisi Keuangan alias Neraca. Akun-akun
dalam kelompok ini TIDAK PERNAH DITUTUP. Nilai saldo kelompok akun ini terus
diroll alias dilanjutkan diperiode-periode berikutnya. Teknisnya, saldo akhir
di suatu periode akan menjadi saldo awal di periode berikutnya. Kelompok akun
ini kemudian dibagi menjadi beberapa sub-kelompok, yaitu:
a. Sub-Kelompok “Aset Lancar” (
Current Assets) –
Meminjam penjelasannya IAS 1 dan PSAK 1, Aset Lancar adalah aset (kekayaan
perusahaan) dalam bentuk kas atau setara kas untuk menyelesaikan kewajiban
(utang/laibilitas) sekurang-kurangnya 12 bulan setelah periode pelaporan; ATAU
dapat direalisasikan dalam jangka waktu 12 bulan dari tanggal laporan posisi
keuangan; ATAU dapat direalisasikan dalam “siklus operasi normal” perusahaan;
ATAU dimiliki untuk maksud diperdagangkan. Masuk dalam sub-kelompok ini adalah
akun-akun yang diberi nama:
- Kas Kecil – Ase berupa kas
atau uang tunai yang disimpan secara fisik di dalam perusahaan (selain
check)
- Kas Bank – Aset berupa kas
yang ada di bank baik dalam bentuk tabungan maupun giro
- Investasi Jangka Pendek –
Aset berupa efek ekuitas dan ekuitas sekuritas yang diperdagangkan
- Piutang Dagang – Aset
berupa tagihan kepada pelanggan yang timbul dari operasional normal
perusahaan, termasuk: piutang pada pelanggan, piutang pada perusahaan
afiliasi, piutang pada karywan (staf, manager, eksekutif).
- Persediaan – Aset
tersimpan, entah untuk digunakan sendiri (misal: bahan baku, barang dalam
proses) atau untuk dijual ke pihak lain (misal: persediaan barang jadi).
- Uang Muka Biaya & Deposit
– Aset yang timbul akibat pembayaran dimuka untuk biaya yang manfaatnya
tidak habis terpakai dalam satu periode, itu sebabnya akun ini sering
diberi nama “Biaya
Dibayar Dimuka.” Misalnya: sewa dibayar dimuka, asuransi
dibayar dimuka, dan aset pajak tangguhan jangka pendek.
b. Sub-Kelompok “Aset Tak Lancar” (
Non-Current Assets)
– Aset tak lancar adalah aset (kekayaan perusahaan) yang tidak memenuhi
kriteria yang disebutkan dalam kelompok “aset lancar” di atas. Masuk dalam
sub-kelompok ini adalah akun-akun yang diberi nama:
- Investasi Jangka Panjang –
Aset berupa instrument investasi yang disimpan hingga jatuh tempo, yang
biasanya berjangka waktu panjang, biasa disebut “held-to-maturity”.
- Property Investasi – Aset
berupa property (=tanah, bangunan/gedung) yang diperoleh bukan untuk
digunakan dalam operasional perusahaan secara normal, melainkan untuk
mendapat keuntungan tertentu, misalnya dengan cara disewakan atau dijual
kembali dengan harga yang lebih tinggi.
- Tanah – Aset berupa tanah
atau lahan yang digunakan untuk operasional persuahaan.
- Bangunan – Aset berupa
bangunan yang digunakan untuk operasional perusahaan, mulai dari tempat
parkir, post satpam, gudang, pabrik, kantor, dan lain sebagainya.
- Mesin – Aset berupa mesin
yang digunakan untuk operasional perusahan, mesin apapun itu. Artinya
semua mesin di seluruh bagian.
- Peralatan – Aset berupa
perlatan yang digunakan untuk menunjang kelancaran aktivitas operasional
perusahaan. Artinya semua peralatan di seuluruh bagian.
- Furniture – Aset berupa
furniture dan mebeler yang digunakan oleh perusahaan, di seluruh bagian.
- Kendaraan – Aset berupa
kendaraan yang dimiliki dan digunakan untuk menunjang kelancaran
operasional perusahaan, termasuk kendaraan-kendaraan dinas, baik roda dua
maupun roda empat.
- Aset Tak Berwujud – Aset
tak lancar yang tidak memiliki wujud fisik akan tetapi diharapkan akan
mendatangkan manfaat baik di masa kini maupun di masa yang akan datang.
Misalnya: goodwill, merk, patent, copyright dan biaya organisasional,
perijinan.
- Aset Dimiliki Untuk Dijual
– Aset berupa tanah, bangunan, mesin, peralatan, kendaraan, dlsb, yang
segera akan dijual. Bisa jadi awalnya untuk operasional, tetapi begitu
akan dijual dipindahkan ke dalam akun ini. Bisa dibilang akun ini
sesungguhnya sangat jarang digunakan.
- Aktiva Lain-lain – Aset
yang tidak memenuhi kriteria lancar tetapi tidak bisa digolongkan kedalam
akun aset tak lancar yang telah disebutkan di atas.
c. Sub-Kelompok “Liabiliats Lancar” (
Current
Liabilities) – Kewajiban atau liabilitas yang: diharapkan bisa
dibayar/dilunasi dalam kurun waktu operasional normal perusahaan; ATAU yang
jatuh tempo dalam jangka waktu tidak lebih dari 12 bulan dari tanggal laporan
posisi keuangan; ATAU dimiliki untuk maksud diperdagangkan; ATAU perusahaan
tidak memiliki hak tanpa syarat untuk menunda penyelesaian laibilitas selama
sekurang-kurangnya 12 bulan setelah periode pelaporan. Masuk dalam sub-kelompok
ini adalah akun-akun yang diberi nama:
- Utang
Dagang
- Utang
Tertulis Jangka Pendek
- Utang
Upah dan Gaji Pegawai
- Utang
Pajak
- Utang
Lain-lain
- Pendapatan
Diterima Dimuka
- Deposit
Dari Pelanggan
- Sewa
Diterima Dimuka
d. Sub-Kelompok “Liabilitas Tak Lancar” (
Non-Current
Liabilities) – Kewajiban atau liabiltas perusahaan yang tidak bisa diselesaikan
dalam satu siklus atau satu tahun buku. Masuk dalam sub-kelompok ini adalah
utang yang diberi nama:
- Utang
Bank Jangka Panjang
- Utang
Sewa Jangka Panjang
- Promes
- Premi
Asuransi Pensiun
- Liabilitas
Pajak Tangguhan
e. Sub-Kelompok “Ekuitas Pemegang Saham” (
Shareholder’s
Equity) – Klaim atau kepemilikan pihak luar terhadap kekayaan perusahaan.
Masuk dalam sub-kelompok ini adalah akun-akun yang diberi nama:
- Modal
Saham
- Tambahan
Modal Disetor
- Laba
Ditahan
- Akumulasi
Laba/Rugi Komprehensif Lain
Catatan Penting:
Sub-kelompok akun relative pasti dan lumrah digunakan. Sedangkan nama-nama
akun yang ada dalam suatu kelompok sub-akun cenderung variatif antara satu
perusahaan dengan yang lainnya, tergantung jenis dan karakter operasional
perusahaan masing-masing.
Agar dapat gambaran yang lengkap dan komprehensif, terkait topik akun
dalam akuntansi, saya singgung sedikit mengenai buku besar (ledger) dan saldo
akun (account balance.)
Apa Itu Buku Besar (Ledger) dan Apa Hubungannya Dengan Akun?
Seperti telah disimpulkan di atas, akun adalam penampung transaksi-transaksi
keuangan. Kumpulan transaksi-transaksi dalam suatu akun inilah yang disebut “
Buku
Besar” atau “
Ledger”. Sehingga, bisa dibilang bahwa
nama suatu akun sekaligus menjadi nama suatu ledger atau buku besar.
Misalnya: Atasan di kantor meminta, “
Tolong kirimi saya
ledger Penjualan Januari 2013”, artinya: anda diminta untuk mengirimkan
data transaksi Penjualan bulan Januari 2013. Data itu bisa anda peroleh dengan
mengambil data yang ada di dalam AKUN “Penjualan.”
Contoh Ledger Penjualan (Januari 2013):
01 Jan 2013, Saldo Awal Penjualan = Rp 0
03 Jan 2013, Penjualan ke PT. ABC = Rp 35,000,000 >>> Positive
03 Jan 2013, Diskon Penjualan ke PT. ABC = (Rp 5,000,000) >>> Negative
15 Jan 2013, Penjualan ke PT. XYZ = Rp 70,000,000 >>> Positive
19 Jan 2013, Penjualan PT. DEF = Rp 25,000,000 >>> Positive
31 Jan 2013, Retur Penjualan PT. XYZ = (Rp 15,000,000) >>> Negative
31 Jan 2013, Saldo Akhir = Rp 110,000,000 >>> Positive
Apa Itu Saldo Akun?
Jika atasan tidak punya cukup waktu untuk melihat rincian transaksi, mungkin
dia bertanya “
Berapa saldo penjualan Januari 2013?”.
Nah, apa itu saldo?
Seperti terlihat dalam contoh ledger sederhana di atas, masing-masing
transaksi yang ada dalam suatu akun, memiliki nilai bersatuan Rp (atau
USD/EURO/AUD/Yen/Real/dlsb) yang bisa jadi bernilai positive (menambah) atau
negative (mengurangi).
Jika semua transaksi bernilai positive dikumpulkan menjadi satu kelompok
lalu ditempatkan di suatu sisi dalam format “T-ACCOUNT”, dan semua transaksi
bernilai negative dikumpulkan menjadi satu kelompok lalu ditempatkan di sisi
lainnya, maka akan timbul selisih. Nah, selisih antara total transaksi bernilai
positive dengan negative inilah yang disebut ‘SALDO” atau “BALANCE”.
Jika saya tempatkan dalam format T-Account, maka contoh ledger Penjualan
Januari 2013 di atas akan nampak sebagai berikut:
Saldo Per 31 Januari 2013 adalah Rp 110,000,000 yang tiada lain adalah “
selisih”
atau “
penyeimbang” antara total transaksi yang bernilai
negative (mengurangi) dengan yang bernilai positive (menambah). Karena bersifat
menyeimbangkan inilah maka disebut “
balance” atau “
saldo”.
Saldo di awal periode disebut “Saldo Awal”, sedangkan yang di akhir periode
disebut “saldo akhir”.
Contoh:
Menggunakan contoh ledger Penjualan di atas:
- Berapa
“saldo awal” akun penjualan Januari 2013? Jawab: 0 (nol).
- Berapa
“saldo akhir” akun penjualan Januari 2013? Jawab: Rp 110,000,000
Catatan Penting:
Ada 2 catatan penting yang ingin saya sampaikan, khususnya untuk rekan calon
akuntan yang belum pernah bekerja:
Pertama, pada pekerjaan akuntansi yang sesungguhnya, di era
komputerisasi sekarang ini, anda tidak akan menggunakan T-Account. Tampilan
buku besar (ledger) yang sesungguhnya, baik di Excel atau software akuntansi,
sama persis seperti contoh ledger di atas, anda TIDAK AKAN PERNAH MENJUMPAI
YANG NAMANYA T-ACCOUNT.
Transaksi dalam buku besar atau ledger cukup ditampilkan berurut berdasarkan
tanggal, tentunya dengan nilai positive dan negative pada masing-masing
transaksi. Nilai negative dalam ledger mungkin hanya berupa tanda minus (-)
atau angka berwarna merah atau angka di dalam tanda kurung (000). Saldo bisa
diketahui hanya dengan menjumlahkan keseluruhan nilai transaksi baik positive
maupun negative.
Kedua, dalam praktek pekerjaan sehari-hari, yang namanya
“saldo” tidak selalu di akhir periode (akhir bulan/kwartal/semester/tahun).
Bisa saja atasan atau anggota manajemen yang lain meminta “
Berapa saldo
penjualan hari ini?” atau “
Berapa saldo piutang kemarin”, dan
lain sebagainya.
Contoh:
Menggunakan contoh ledger penjualan tadi, jika atasan bertanya “
Berapa
saldo tanggal 15 Januari 2013?”
Jawab: Rp 100,000,000.
Darimana dapat angka tersebut?
Dari hasil penjumlahan saldo awal januari dan transaksi-transaksi penjualan
sepanjang 1 s/d 15 Januari 2013, sebagai berikut:
01 Jan 2013, Saldo Awal Penjualan
= Rp 0
03 Jan 2013, Penjualan ke PT. ABC
= Rp 35,000,000 >>> Positive
03 Jan 2013, Diskon Penjualan ke PT. ABC = (Rp 5,000,000) >>> Negative
15 Jan 2013, Penjualan ke PT. XYZ
= Rp 70,000,000 >>> Positive
15 Jan 2013, Saldo Akhir
=
Rp 100,000,000
Bagaimana jika jumlah transaksi mencapai ribuan? Anda bisa menggunakan Excel
tentunya.
Lebih bagus lagi jika menggunakan software atau aplikasi akuntansi. Dengan
software, setiap kali anda mencatat suatu transaksi, software akan secara
otomatis mengklasifikasikannya ke dalam akun yang sesuai. Sehingga, praktis,
saldo akun bisa diketahui sewaktu-waktu, tidak selalu harus di akhir periode
(bulan/kwartal/semester/tahun).
Anda masih mengikuti? Sudah ngantuk atau malah pusing?
Sampai di sini, bisa disimpulkan beberapa hal:
- Akun, adalah penampung
transaksi-transaksi keuangan yang sudah terklasifikasi.
- Akun-akun, di kelompokan
ke dalam sub-sub akun.
- Sekumpulan sub-akun,
membentuk jenis akun (temporal dan permanent) yang juga menjadi komponen
utama laporan keuangan (Laba Rugi dan Neraca).
- Buku Besar (Ledger),
adalah kumpulan transaksi-transaksi yang ada dalam suatu akun.
- Saldo Akun, jika
menggunakan format T-Account, adalah selisih atau penyeimbang antara total
nilai transaksi bernilai negative dengan positive. Sedangkan jika
memakai ledger yang tidak berformat T-account, maka saldo akun adalah
total keseluruhan nilai transaksi—baik positive maupun negative—yang ada
di dalam suatu akun.
- Saldo Akhir, adalah saldo di
akhir periode.
- Saldo Awal, adalah saldo
di awal periode.
Pembahasan topik akun, jenis dan nama akun, dalam akuntansi, saya pikir
sudah lebih dari cukup (
Ucapan terimakasih kepada Mas Unyu yang telah
membantu saya editing dan format tulisan)
REFERENSI
http://jurnalakuntansikeuangan.com/2013/01/akuntansi-dasar-akun-jenis-dan-nama-akun-menurut-akuntansi/