Blogger Widgets
بِــــــسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيـــمِ

SELAMAT DATANG DI STIKOM MUHAMMADIYAH BATAM

SELAMAT DATANG DI BLOG KAMI - TERIMAKASIH ATAS KUNJUNGAN ANDA

Rabu, 11 Juni 2014

LAPORAN RUGI / LABA



BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Di suatu akhir periode akuntansi perusahaan ada dua hasil yang sering terjadi, yaitu laba atau rugi. Pengukuran laba bukan saja penting untuk menentukan prestasi perusahaan tetapi penting juga penting sebagai informasi bagi pembagian laba dan penentuan kebijakan investasi. Oleh karena itu, laba menjadi informasi yang dilihat oleh banyak seperti profesi akuntansi, pengusaha, analis keuangan, pemegang saham, ekonom, fiskus, dan sebagainya (Harahap, 2001: 259).

Ada dua media pelaporan yang digunakan untuk melaporkan hasil aktivitas perusahaan yaitu Laporan Rugi Laba dan Laporan Laba Ditahan. Laporan Laba Ditahan dapat disajikan terpisah dari Laporan Rugi Laba, dapat juga disajikan sebagai bagian dari Laporan Rugi Laba. Laporan Laba Ditahan dapat juga disajikan di dalam Laporan Perubahan Modal, dimana perubahan laba  yang ditahan termasuk di dalamnya. Dalam hal yang terakhir Laporan Laba Ditahan secara tersendiri sudah tidak diperlukan. Laporan Rugi Laba dan Laporan Laba Ditahan merupakan laporan atas aktivitas perusahaan selama satu periode akuntansi, berbeda dengan neraca yang memberikan informasi tentang aktiva dan hutang perusahaan pada waktu tertentu.

1.2  Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah yang dibahas dalam makalah ini, antara lain :
1.    Pengertian, elemen serta bentuk laporan rugi laba
2.    Penyajian pos tidak biasa
3.    Laporan Laba Ditahan
4.    Pengertian dan elemen neraca
5.    Laporan Arus Kas

1.3  Tujuan
Adapun tujuan dibuatnya makalah ini adalah untuk :
1.    Mengetahui pengertian, elemen serta bentuk laporan rugi laba
2.    Mengetahui penyajian pos tidak biasa
3.    Mengetahui  Laporan Laba Ditahan
4.    Mengetahui pengertian dan elemen neraca
5.    Mengetahui Laporan Arus Kas

1.4 Metode Penulisan

Metode yang digunakan dalam penulisan makalah ini adalah menggunakan metode pustaka yaitu penulis menggunakan media pustaka dalam penyusunan makalah ini.





BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Laporan Rugi Laba

Pengertian Laporan Rugi-Laba menurut Henri Simamora dalam buku “Analisis Laporan Keuangan Untuk Bisnis” adalah:

“Laporan Rugi-Laba adalah Laporan keuangan resmi yang menerangkan kegiatan-kegiatan operasi (Pendapatan dan Biaya) selama periode tertentu, biasanya satu bulan atau satu tahun.”                                                                                                                                             (2002:22)

                 
       Sedangkan pengertian laporan Rugi-Laba menurut Dwi Prastowo dan Rifka Julianty dalam buku “Analisa Laporan Keuangan;Konsep dan Aplikasi” sebagai berikut:                                                                       
“Laporan Keuangan yang memberikan informasi mengenai kemampuan (potensi) perusahaan dalam menghasilkan laba (kinerja) selama periode tertentu.”                                                                                                                    (2002 : 18)

Menurut Dwi Prastowo dan Rifka Julianty dalam buku “Analisa Laporan Keuangan; Konsep dan Aplikasi” untuk dapat menggambarkan informasi mengenai potensi perusahaan, dalam menghasilkan laba selama periode tertentu, Laporan Rugi-Laba mempunyai dua unsur yaitu:
  a.  Penghasilan (income)
  b. Beban (expense).”                                                                            
                                                                                                            (2002 : 20)

           

            Dalam laporan rugi laba ada sejumlah elemen atau istilah yang melekat secara umum. Elemen ini tercatat dalam laporan rugi laba perusahaan. Antara lain:
a.   Pendapatan (Revenue)
Pendapatan adalah aliran masuk atau kenaikan lain aktiva suatu badan usaha atau pelunasan utangnya, bisa merupakan kombinasi keduanya selama suatu periode yang berasal dari penyerahan atau produksi barang, penyerahan jasa, atau dari kegiatan lain yang merupakan kegiatan perusahaan.

b.   Beban (expense)
Beban adalah aliran keluar atau pemakaian lain aktiva atau timbulnya utang, bisa merupakan kombinasi keduanya selama suatu periode yang berasal dari penyerahan atau produksi barang, penyerahan jasa, atau dari pelaksanaan kegiatan lain yang merupakan kegiatan perusahaan.

c.   Laba (Profit)
Laba adalah kenaikan modal atau aktiva bersih yang berasal dari transaksi utama perusahaan dan transaksi sampingan dari suatu perusahaan dalam suatu periode tertentu  kecuali kenaikan modal dari pendapatan atau investasi oleh pemilik, seperti pada laba yang timbul dari penjualan aktiva tetap.

d.   Rugi (Loss)
Rugi adalah penurunan modal atau aktiva bersih yang berasal dari transaksi utama perusahaan dan transaksi sampingan dari suatu perusahaan dalam suatu periode tertentu kecuali yang timbul dari biaya atau distribusi pada pemilik, seperti pada rugi penjualan surat berharga.

2.2 Bentuk Laporan Rugi Laba
           
Menurut Baridwan (2000, hal 39-40) Laporan Rugi Laba dalam penyajiannya dibagi menjadi dua bentuk yaitu :
1.   Bentuk Single Step
Laporan R/L bentuk ini sering disebut laporan langsung. Dengan kata lain adalah laporan rugi laba yang menggabungkan seluruh pendapatan dan beban perusahaan menjadi satu kelompok, baik  pendapatan dan beban operasional maupun non operasional. Tahapan penyusunan laporan ini ada tiga, yaitu :

a. rincian semua pendapatan operasional dan non operasional
b. rincian semua beban operasional dan non operasional
c. selisih semua pendapatan dan beban. Ditemukanlah angka/jumlah yang menunjukkan laba atau rugi



2. Bentuk Multiple Step
Bentuk ini juga disebut bentuk bertahap yaitu bentuk laporan rugi-laba yang unsur pendapatan maupun beban dipisahkan atas dasar operasional dan non operasional. Cara penyusunannya adalah sebagai berikut :
a. Bagian pertama adalah perincian pendapatan operasional
b. Bagian kedua adalah perincian beban operasional
c. Bagian ketiga adalah perincian pendapatan maupun beban non operasional
d. Bagian terakhir untuk mencari saldo rugi – laba bersih.


2.3  Penyajian Pos Tidak Biasa

Pos – Pos tidak biasa adalah laba atau rugi dari transaksi – transaksi yang jarang dilakukan atau transaksi yang bersifat insidentil. Misalnya:
-          laba atau rugi dari penjualan aktiva tetap
-          kerugian akibat gempa bumi,kebakaran atau banjir

Untuk menyajikan pos luar biasa seperti kebakaran, gempa, dan sebagainya perusahaan dapat menganut salah satu dari dua perlakuan berikut ini:

a. CURRENT OPERATING PERFORMANCE
 Pencatatan kerugian dari pos tidak biasa tidak boleh disajikan dalam laporan laba rugi melainkan disajikan dalam laporan laba ditahan atau laporan perubahan modal maka laporan laba rugi hanya menentukan hasil dari operasi normal periode tersebut.

b. ALL INCLUSIVE
Pencatatan kerugian dari pos luar biasa tersebut dapat disajikan dalam laporan laba rugi, sedangkan dalam laporan laba yang ditahan hanya berisi          net income yang ditransfer dari laporan rugi laba deklarasi (pembayaran dividend), penyisihan dari laba (appropriation of retained earning)

Berdasarkan pendekatan modified all inclusive concept, perusahaan dapat melaporkan irregular items sebagai bagian dari net income-nya. Salah satu irregular items adalah pos luar biasa (extraordinary items).



2.4 Penyajian Pos Tidak Biasa

Laba atau rugi bersih untuk periode berjalan terdiri atas unsur-unsur berikut, yang masing-masing harus diungkapkan pada laporan laba rugi, yaitu :
(a) Laba atau rugi dari aktivitas normal; dan
(b) Pos luar biasa

Penyajian Pos Luar Biasa dalam laporan rugi laba perusahaan diatur berdasarkan PSAK No. 25 mengenai Laba atau Rugi Bersih untuk Periode Berjalan, Kesalahan Mendasar, dan Perubahan Kebijakan Akuntansi           Paragraf 10-14.

Sebenarnya semua unsur pendapatan dan beban yang tercakup dalam perhitungan rugi laba bersih untuk periode tertentu timbul dari aktivitas normal perusahaan tersebut. Karenanya, jarang sekali suatu kejadian atau transaksi menimbulkan pos luar biasa

Apakah suatu kejadian atau transaksi secara jelas berbeda dengan aktivitas normal suatu perusahaan ditentukan oleh hakikat dari kejadian atau transaksi tersebut sehubungan dengan usaha yang biasanya dilakukan oleh perusahaan tersebut. Oleh karena itu, suatu kejadian atau transaksi mungkin luar biasa bagi satu perusahaan, namun tidak luar biasa bagi perusahaan lain, karena perbedaan-perbedaan aktivitas normal masing-masing perusahaan. Sebagai contoh, kerugian karena gempa bumi pada kebanyakan perusahaan dapat dianggap sebagai kerugian luar biasa. Akan tetapi, tuntutan ganti rugi oleh pemegang polis asuransi kerugian karena gempa bumi tidak dapat dianggap sebagai pos luar biasa untuk perusahaan asuransi yang menanggung kerugian tersebut.

Suatu kejadian atau transaksi dapat diklasifikasikan sebagai pos luar biasa jika memenuhi dua kriteria berikut :
(a) Bersifat tidak normal; kejadian atau transaksi yang bersangkutan memiliki tingkat abnormalitas yang tinggi dan tidak mempunyai hubungan dengan kegiatan normal perusahaan

(b) Tidak sering terjadi; kejadian atau transaksi yang bersangkutan tidak sering terjadi dalam kegiatan normal perusahaan.

Penerapan kedua kriteria di atas harus dihubungkan dengan sifat dan karakteristik dari kegiatan perusahaan serta faktor geografis perusahaan. Bila hanya salah satu kriteria tersebut terpenuhi, maka transaksi atau kejadian tersebut dikelompokkan sebagai penghasilan atau beban lain-lain.

Contoh kejadian atau transaksi yang pada umumnya menimbulkan kerugian luar biasa bagi perusahaan adalah kerugian sebagai akibat gempa bumi, kebakaran, atau banjir. Kerugian tersebut setelah dikurangi dengan klaim asuransi, jika ada, disajikan sebagai unsur pos luar biasa dalam laporan laba rugi.

Pos luar biasa dalam laporan laba rugi disajikan setelah laba yang berasal dari kegiatan normal perusahaan. Hakikat dari pos luar biasa dan pertimbangan yang mendasari pengelompokan kejadian atau transaksi tersebut sebagai pos luar biasa harus diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan. Dengan demikian, pengguna laporan keuangan tetap dapat melakukan evaluasi mengenai kinerja perusahaan yang berasal dari kegiatan normal selama periode tersebut sekaligus juga melihat pengaruh dari pos luar biasa terhadap perhitungan laba rugi perusahaan untuk periode yang bersangkutan.


Ilustrasi penyajian Pos Luar Biasa dalam laporan laba rugi perusahan sebagai berikut :
PT ABC - Laporan Laba Rugi
PENDAPATAN USAHA
xxxxxxxx
BEBAN POKOK PENJUALAN
(xxxxxxx)
LABA KOTOR
xxxxxxx
BEBAN USAHA
(xxxxxxx)
LABA USAHA
xxxxxxx
PENGHASILAN (BEBAN) LAIN-LAIN
xxxxxxx
LABA SEBELUM PAJAK PENGHASILAN
xxxxxxx
BEBAN (PENGHASILAN) PAJAK PENGHASILAN

Periode Berjalan
xxxxxxx
Tangguhan
xxxxxxx
LABA DARI AKTIVITAS NORMAL
xxxxxxx
POS LUAR BIASA
xxxxxxx
LABA BERSIH
xxxxxxx




2.5  Laporan Laba Ditahan

Laba ditahan ( retained earning ) merupakan laba bersih yang tidak didistribusikan kepada para pemegang saham. Maksud laba yang ditahan (retained earning) menurut pendapat Martono dan Agus Harjito (2005:201) yaitu “Laba yang tidak dibagi”.

Ada beberapa unsur yang mempengaruhi (faktor) perubahan laba ditahan, antara lain:
  1. adanya laba bersih (net income) atau rugi bersih ( net loss)
  2. adanya penyesuaian periode sebelumnya ( prior period adjusment) dan perubahan kebijakan akuntansi ( change in accounting policy)
  3. adanya deviden ( cash devicend, stock devidend, property dividend dan scrip dividend)
  4. adanya transaksi atas treasury stock
  5. adanya penyesuaian akibat quasi reorganization

Laporan laba ditahan berisikan informasi mengenai perubahan laba ditahan perusahaan yang menyebabkan terjadinya perubahan modal sendiri perusahaan. Perhitungan laba ditahan adalah laba bersih dikurangi deviden yang dibagikan. Laba ditahan diinvestasikan kembali dengan harapan peningkatan laba perusahaan pada tahun mendatang. Laporan ini digunakan investor untuk menilai usulan kebijakan manajemen perusahaan mengenai deviden. Pembagian deviden yang merupakan hak pemegang saham yang diatur dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) biasanya tidak dibagikan seluruhnya, tetapi sebagian digunakan kembali untuk berinvestasi. Sebagian yang digunakan untuk berinvestasi inilah menjadi laba ditahan perusahaan. Semakin besar laba ditahan perusahaan akan semakin besar aset perusahaan, dan dapat dikatakan perusahaan tersebut “sehat”.



2.6 Neraca (Balance Sheet)

            Neraca adalah suatu laporan yang menggambarkan mengenai jumlah aktiva, hutang, serta modal suatu perusahaan pada saat tertentu. Menurut Smith dan Skousen (2007, hal 152): “ Neraca merupakan laporan pada suatu saat tertentu mengenai sumber daya perusahaan (aktiva), hutangnya (kewajiban), dan klaim kepemilikan terhadap sumber daya (equitas pemilik)”.

Menurut IAI (2009), Neraca menggambarkan posisi keuangan perusahaan yang terdiri dari aset, kewajiban dan modal perusahaan pada suatu tanggal tertentu.

Neraca dapat disusun dalam dua bentuk yaitu bentuk T (T form) dan bentuk L (L form). Di dalam bentuk T form semua harta perusahaan ditempatkan pada sisi bagian kiri neraca dengan judul aktiva (assets), sedangkan hutang dan modal ditempatkan pada sisi kanan neraca dengan judul passiva ( liabilities and stockholder’s equity). Dalam bentuk L form, semua harta perusahaan ditempatkan pada bagian atas neraca, sedangkan hutang dan modal ditempatkan pada bagian bawah neraca.

Dari pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa neraca terdiri dari tiga bagian utama, yaitu aset, kewajiban dan ekuitas.
A.  Aset
            Menurut IAI (2009, h9) mendefinisikan aset sebagai sumber daya yang dikuasai oleh perusahaan sebagai akibat dari peristiwa masa lalu dan dari mana manfaat ekonomi di masa depan diharapkan akan diperoleh perusahaan.
           
Mengacu pada pendapat Munawir (2004) aset dapat diklasifikasikan menjadi dua bagian utama, yaitu:
a. Aset lancar
Munawir (2004, h14) menyatakan aset adalah uang kas dan aktiva lainnya yang diharapkan dapat dicairkan, ditukarkan menjadi uang tunai, dijual, atau digunakan periode pada berikutnya paling lama satu tahun atau dalam perputaran kegiatan perusahaan yang normal.

b. Aset tidak lancar (aset tetap)
Munawir (2004, h16) menyatakan aset tidak lancar adalah aktiva yang mempunyai umur ekonomis lebih dari satu tahun atau tidak akan habis dalam satu kali perputaran operasi perusahaan.

B. Kewajiban

Menurut IAI (2009, h9) mendefinisikan kewajiban merupakan utang perusahaan masa kini yang timbul dari peristiwa masa lalu, penyelesaiannya diharapkan mengakibatkan arus keluar dari sumber daya perusahaan yang mengandung manfaat ekonomi.

Kewajiban menurut Munawir (2004, h18-19) terbagi menjadi dua bagian, yaitu kewajiban jangka pendek dan kewajiban jangka panjang.
a.  Kewajiban jangka pendek
adalah kewajiban keuangan perusahaan yang pelunasan atau pembayarannya dilakukan dalam jangka pendek yaitu satu tahun sejak tanggal neraca dengan menggunakan aktiva lancar yang dimiliki perusahaan.

b.  Kewajiban jangka panjang
Adalah kewajiban keuangan yang jangka waktu pembayarannya lebih dari satu tahun sejak tanggal neraca yang meliputi hutang obligasi, hutang hipotek dan pinjaman jangka panjang yang lain.

C.   Ekuitas
IAI (2009, h9) menyatakan ekuitas adalah hak residual atas aktiva perusahaan setelah dikurangi semua kewajiban.

2.7 Laporan Arus Kas (Cash Flow)
 
            Laporan arus kas sering juga disebut sebagai laporan sumber dan penggunaan dana.
Warent, et.al (1996, hal 20) menyatakan bahwa:
“ Laporan arus kas adalah suatu ringkasan mengenai penerimaan dan pembayaran kas dari suatu perusahaan dalam jangka waktu tertentu. “

Sedangkan menurut Helfert (2003, hal 23) :
“ Laporan arus kas adalah laporan yang memperlihatkan hasil – hasil operasi selama periode serta perubahan yang terjadi dalam neraca”.
           
Dalam penyajiannya, menurut Hackel dan Livnat (1996, hal 146-164), laporan arus kas dibagi dalam tiga kelompok yaitu :
a.    Aktivitas Operasional (Operating)
Adalah kelompok yang meliputi seluruh transaksi dan kegiatan lainnya yang tidak termasuk di dalam kegiatan investasi maupun pembiayaan perusahaan. Secara lebih jelas, arus kas yang berasal dari kegiatan opersional meliputi arus kas dari kegiatan produksi, distribusi barang dan penyediaan jasa. Arus kas dari kegiatan operasi adalah arus kas hasil dari transaksi dan kegiatan lainnya yang ikut menentukan laba bersih.

b.   Aktivitas Investasi ( Investing)
Adalah kelompok yang meliputi pembelian dan penagihan piutang, pengembalian persediaan barang dagang, pembayaran pinjaman, pengadaan serta penjualan equitas dan harta kekayaan perusahaan (tanah), bangunan, dan peralatan serta aktiva-aktiva produktif lainnya yaitu aktiva yang digunakan oleh perusahaan untuk melakukan produksi barang dan jasa.

c.    Aktivitas Pendanaan atau pembiayaan ( Financing)
Adalah kelompok yang meliputi perolehan sumber daya dari para pemilik dan pemberian hasil atas investasi yang telah dilakukan, peminjaman, serta pembayan kembali hutang oleh pemiliknya atau sebaliknya penyelesaian kewajiban perusahaan kepada pemilik, dan perolehan serta pembayaran sumber daya lainnya yang berasal dari pembiayaan jangka panjang.



BAB III
PENUTUP

3.1  Kesimpulan

Laporan laba rugi adalah bagian dari laporan keuangan suatu perusahaan yang dihasilkan pada suatu periode akuntansi yang menjabarkan unsur-unsur pendapatan dan beban perusahaan sehingga menghasilkan suatu laba (atau rugi) bersih.

Dalam laporan rugi laba ada sejumlah elemen atau istilah yang melekat secara umum. Elemen ini tercatat dalam laporan rugi laba perusahaan. Antara lain Pendapatan, Beban, Laba dan Rugi.

Untuk menyajikan pos luar biasa seperti kebakaran, gempa, dan sebagainya perusahaan dapat menganut salah satu dari dua perlakuan yaitu Current Operating Performance dan All Inclusive. Perusahaan juga dapat menggunakan pendekatan modified all inclusive concept, perusahaan dapat melaporkan irregular items sebagai bagian dari net income-nya. Salah satu irregular items adalah pos luar biasa (extraordinary items).

Suatu kejadian atau transaksi dapat diklasifikasikan sebagai pos luar biasa jika memenuhi dua kriteria yaitu bersifat tidak normal dan tidak sering terjadi. Penerapan kedua kriteria di atas harus dihubungkan dengan sifat dan karakteristik dari kegiatan perusahaan serta faktor geografis perusahaan.

Laba ditahan ( retained earning ) merupakan laba bersih yang tidak didistribusikan kepada para pemegang saham.

Neraca adalah suatu laporan yang menggambarkan mengenai jumlah aktiva, hutang, serta modal suatu perusahaan pada saat tertentu. Neraca terdiri dari tiga bagian utama, yaitu aset, kewajiban dan ekuitas.

Laporan arus kas adalah suatu ringkasan mengenai penerimaan dan pembayaran kas dari suatu perusahaan dalam jangka waktu tertentu.

Dalam penyajiannya laporan arus kas dibagi dalam tiga kelompok yaitu aktivitas operasi, aktivitas inventasi dan aktivitas pendanaan.


3.2  Saran

Untuk mempermudah keinginan perusahaan yaitu memperoleh laba semaksimal mungkin maka perusahaan perlu membuat laporan rugi laba, karena dengan membuat laporan rugi laba, maka perusahaan dapat mengevaluasi perkembangan dari perusahaan.

 Laporan arus kas ini penting sekali agar kita bisa paham posisi keuangan dalam kondisi yang sebenarnya, yaitu perputaran uang yang sesungguhnya, bukan posisi keuangan dalam pos akuntansi.








DAFTAR PUSTAKA

Wibowo, SE, MM, AK dan Abu Bakar Arif, SE, MM, 2003, Akuntansi Keuangan Dasar 2,  Grasindo:Jakarta.
Ikatan Akuntan Indonesia (IAI), 2009. Standar Akuntansi Keuangan (SAK)  Salemba Empat:Jakarta.

Zaki Baridwan. 2000. “Intermediate Accounting”. Yogyakarta: BPFE
.

Prastowo, Dwi dan Julianty Rika, 2002. Analisa Laporan Keuangan, Edisi Kedua, Cetakan Pertama. PP. AMP YKPN: Yogyakarta.

http://softbizniz.blogspot.com/2013/10/makalah-laporan-rugi-laba-dan-laba.html