بِــــــسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيـــمِ

SELAMAT DATANG DI STIKOM MUHAMMADIYAH BATAM

SELAMAT DATANG DI BLOG KAMI - DAN TERIMAKASIH ATAS KUNJUNGAN ANDA

PILIH MENU

LAGI BELAJAR

Radio Minang Maimbau

Radio Minang Maimbau

Server Radio : .





Selasa, 17 Juni 2014

FORMAT LAPORAN KEUANGAN LABA - RUGI



Format Laporan Keuangan Laba-Rugi
Sebenarnya sudah beberapa kali JAK menyajikan contoh format laporan keuangan sederhana, namun belum pernah membahasnya secara terperinci. Dari banyaknya permintaan kawan-kawan di JAK (via feedback dan email), saya berkesimpulan: contoh format laporan keuangan sangat diperlukan. Melalui tulisan ini (dan seri kelanjutannya), saya akan membahas format laporan keuangan, dimulai dengan format laporan laba-rugi, beserta penjelasan-penjelasan yang diperlukan.
Namun sebelum itu, perlu disadari (dan ini sangat penting) bahwa item-item—yang berupa akun-akun—dalam laporan keuangan ragamnya banyak, sesuai dengan jenis perusahaanya. Dan itu sah-sah saja, tak ada masalah sepanjang sesuai dengan PSAK.

Format Laporan Keuangan Standar Vs Non-Standar

Kadang saya menemukan publikasi online yang dengan percaya-diri menyebutkan “Berikut ini adalah format satandar laporan keuangan”, menurut saya itu pernyataan yang berlebihan—mungkin dibuat sebagai bumbu daya tarik, ya tidak apa-apalah. Standar untuk si pembuat, mungkin IYA. Standar untuk perusahaan ABC, mungkin juga IYES. Tetapi standar untuk semua perusahaan?
Saya rasa tidak. Yang saya tahu, tak ada yang namanya “format standar.” Seumur-umur belajar akuntansi, membaca literature terbitan lokal hingga terbitan asing, saya belum pernah menemukan kata-kata yang menyebutkan “ini adalah format standar laporan keuangan”.
Jika “format yang lumrah”, IYA, memang ada, misalnya: format yang lumrah untuk perusahaan jasa, perusahaan dagang, perusahaan manufaktur, perusahaan konstruksi dan real estate (yang biasa disebut dengan perusahaan kontraktor), pertambangan, holti kultura, perbankan, non-profit, dan lain sebagainya. Namun tetap saja TIDAK bisa disebut “FORMAT STANDAR”—yang harus diikuti bulat-bulat oleh perusahaan lain, apalagi yang jenis usahanya jelas-jelas berbeda.
Oleh sebab itu, contoh format apapun yang dikeluarkan oleh JAK, saya pribadi memberikan jaminan PASTI BUKAN FORMAT STANDAR, termasuk format laba-rugi yang akan saya tampilan lewat tulisan ini. Yang akan saya sampaikan adalah format dasar. Agar bisa sungguh-sungguh digunakan perlu modifikasi-modifikasi sesuai kebutuhan.
Dan yang lebih tahu menganai apa yang anda butuhkan adalah bukan saya, bukan konsultan, bukan guru besar akuntansi dari Kellog Business School-nya North Western University sekalipun, bukan IAI, bukan FASB, bukan IASB, bukan pihak lain. Melainkan perusahaan itu sendiri, lebih persisnya ANDA sendiri yang ada di dalam perusahaan tersebut.
Ketimbang sekedar menjiplak format laporan keuangan yang telah ada, menurut saya pribadi, jauh lebih masuk akal dan lebih penting untuk mengetahui teknikal dan logika-logika dari format laporan keuangan itu sendiri. Jika teknikal dan logika-logikanya sudah dipahami dengan baik, maka saya yakin anda bisa membuat format laporan keuangan untuk jenis perusahaan apapun.
Sudah pasti, untuk bisa menyajikan laporan keuangan yang sungguh-sungguh mendekati kondisi keuangan perusahaan yang sesungguhnya, seseorang harus paham (sedikit-banyaknya) alur-proses operasional perusahaan yang akan dibuatkan laporan, paham karakter dan behavior perusahaan tersebut.
Sebaliknya, jika sebuah laporan menggunakan template hasil jiplak, lalu dipaksakan untuk digunakan untuk perusahaan berbeda—sementara tidak paham teknikal dan logikanya, tak paham operasional perusahaan—saya yakin tak seorangpun yang akan bisa membaca dan memahami isi laporan yang dihasilkan.
Oke. Cukup. Sekedar untuk diketahui saja. Kita langsung ke topik utama…

Format Laporan Laba-Rugi (Income Statements)

Dalam “Format Laporan Keuangan Bagian 1” ini saya akan menyajikan contoh format dasar “Laporan Laba-Rugi,” beserta penjelasan-penjelasan yang diperlukan:
http://jurnalakuntansikeuangan.com/



Penjelasan:
PT. JAK” – Ini adalah nama perusahaan yang dilaporkan
LAPORAN LABA-RUGI” – Ini adalah nama laporannya, yaitu Laporan-Laba Rugi
1 – 31 Januari 2012” – Ini adalah periode laporan. Periodisasi laporan keuangan lumrahnya ada 4, sehingga format inipun ada empat macam, yaitu:
(1) Bulanan (monthly), formatnya: seperti pada contoh di atas
(2) Kuartalan (quarterly), fromatnya: “Kuartal I (1 Januari – 31 Maret) 2012”
(3) Semesteran (semi-annually), formatnya: “Semester I (1 Januari – 30 Juni) 2012”
(4) Tahunan (Annually), formatnya: “1 Januari – 31 Desember 2012”
Pendapatan” – Dalam kelompok ini lah segala macam pendapatan ditampung, yang rinciannya bisa dibuat dibawahnya (dalam contoh ini dari a hingga d).
Penjualan” – Ini adalah akun yang khusus menampung penjualan, baik itu penjualan barang maupun jasa, sepanjang itu adalah barang/jasa utama yang dijual oleh perusahaan. Bisa dibilang akun “penjualan” adalah sumber pendapatan utama perusahaan.
Diskon/Potongan” – Ini adalah diskon/potongan yang diberikan kepada pelanggan sehubungan dengan penjualan barang/jasa utama yang dihasilkan oleh perusahaan. Sehingga, akun “diskon” ini bersifat mengurangi penjualan bersih perusahaan. Misal: Penjualan 3 unit monitor @800,000, dalam masa promosi perusahaan mengadakan program “Beli 2 Gratis 1.” Maka ke dalam akun “penjualan” dimasukan 2,400,000 (=3 x 800,000), tetapi 1 barang yang diberikan secara percuma 800,000 bisa dimasukkan ke akun “diskon.” Sehingga penjualan bersih menjadi hanya 1,600,000 (=2,400,000 – 800,000) saja.
Retur” – Ini akun untuk barang retur/kembali, entah karena cacat atau karena pembelian memang dibatalkan. Sifatnya sama seperti diskon, yaitu mengurangi penjualan bersih.
Catatan: Ada juga perusahaan yang laporan laba-rugi-nya tidak menampilkan diskon maupun retur. Yang disajikan dalam laporan laba-rugi hanya nilai penjualan bersih saja. Jika menggunakan contoh laba-rugi di atas, maka yang tampil hanya “Penjualan = 2,150”, sedangkan akun diskon dan retur tidak ditampilkan. Tetapi pada jurnal harian maupun buku besar (ledger), tetap saja diskon dan retur di jurnal. Hanya saja, untuk diskon dan retur dibuat kebalikan dari jurnal penjualan. Mengapa tetap dijurnal? Karena ‘Harga PokokPenjualan’ dan pengurangan nilai ‘persediaan barang’jadi’ dari barang terdiskon tetap harus diakui. Misalnya dalam kasus penjualan monitor di atas, jurnalnya menjadi:
[Debit]. Piutang Dagang = Rp 2,400,000
[Kredit]. Penjualan = Rp 2,400,000
(Untuk penjualan 3 monitor @800,000)
dan:
[Debit]. Harga Pokok Penjualan = Rp 1,200,000
[Kredit]. Persediaan Barang Jadi = Rp 1,200,000
(Untuk mengakui Harga Pokok Penjualan sekaligus mengurangi persediaan)
Lalu discount dicatat:
[Debit]. Penjualan = Rp 800,000
[Kredit]. Piutang Dagang = Rp 800,000
(Untuk diskon 1 monitor @800,000)
Sehingga, setelah semua transaksi terkumpul, maka buku besar ‘Penjualan” akan nampak sbb:
3 monitor @800,000 = 2,400,000 (Di sisi kredit)
1 monitor @800,000 = (800,000) (Di sisi debit)
Saldo                                  = 1,600,000 (nilai netto penjualan setelah discount)

Demikian juga kalau ada retur, misalnya: 1 monitor dikembalikan, maka dicatat:
[Debit]. Penjualan = Rp 800,000
[Kredit]. Piutang Dagang = Rp 800,000
(Untuk diskon 1 monitor @800,000)

Pendapatan Lain-Lain” – Akun ini untuk menampung pendapatan-pendapatan yang berasal dari aktivitas yang BUKAN merupakan aktivitas utama perusahaan. Misalnya: hasil menjual aktiva tetap yang sudah ditarik dari opersional perusahaan, mengontrakan salah satu ruangan kantor untuk perusahaan lain, dan lain sebagainya.
Kita lanjut ke akun berikutnya, yaitu “Harga Pokok Penjualan.” Khusus mengenai Harga Pokok Penjualan—yang dalam bahasa inggrisnya disebut ‘Cost of Goods Sold’, pembahasannya sedikit agak panjang dan rumit. Untuk itu saya jadikan sub-topik khusus di bawah ini.
Tetapi jangan khawatir, sepanjang anda cukup sabar, telaten—terutama sekali mau menelaah secara serius, saya yakin anda akan bisa mengikuti tanpa hambatan. Saya akan berusaha untuk menjelaskan sejelas dan segamblang mungkin. Mudah-mudahan waktu yang anda pergunakan untuk membaca di sini tidak akan sia-sia. Lanjut….

Harga Pokok Penjualan (Cost of Goods Sold)

Yang nampak pada laporan laba-rugi, pada umumnya, hanya “harga pokok penjualan”—ditampilkan dalam satu baris saja. TETAPI, sesungguhnya, harga pokok penjualan terdiri dari beberapa akun yang dikalkulasi secara terpisah. Sehingga, laporan laba-rugi disertai dengan satu lampiran yang disebut dengan “Rincian Perhitungan Harga Pokok Penjualan” yang item-itemnya bervariasi antara satu jenis perusahaan dengan perusahaan lainnya.
Sebagai contoh, saya sajikan format “Rincian Perhitungan Harga Pokok Penjualan” untuk perusahaan MANUFAKTUR saja. Dengan penjelasan yang akan saya berikan, mudah-mudahan anda bisa membuat rincian perhitungan harga pokok penjualan untuk jenis usaha lainnya.
Berikut adalah contoh “Rincian Perhitungan Harga Pokok Penjualan” yang saya maksudkan: